Header Ads

ads header

Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK)

Dunia telah memasuki era disrupsi, dan Indonesia tidak luput dari dunia yang berubah sangat cepat ini.  Era disrupsi menciptakan banyak peluang namun hanya akan memberikan kesempatan  sedikit perusahaan untuk menjadi pemenang. Menurut penelitian Dell Technology (2016) sudah sekitar 52% perusahaan-perusahaan di dunia masuk dalam kategori obsolete atau tidak relevan dengan keadaan jaman lagi.  Dan hanya 28% perusahaan yang memiliki kemampuan berinovasi, sisanya memiliki kemampuan itu namun tidak terlalu kuat bahkan mengarah ke pasrah dengan perubahan yang terjadi sangat cepat.  Deloitte juga melakukan kajian pada 2017 dan menghasilkan rekomendasi bahwa 90% para CEO perusahaan menyadari sepenuhnya akan terjadinya disrupsi, namun sebesar 70% perusahaan kekurangan kemampuan untuk melakukan perubahan.  Saat ini, diperlukan seperangkat keterampilan bisnis dan kerja baru. Sementara perusahaan yang lebih besar dan lebih dewasa bekerja untuk mendefinisikan kepemimpinan baru, struktur, keragaman, teknologi yang dibutuhkan untuk menghadapi era disrupsi, perusahaan yang lebih kecil bahkan tidak menyadari bahwa disrupsi sudah terjadi di sekitarnya.
Di dalam artikel yang berjudul “Forbes Greatest Living Business Mind on Artificial Intelligence– by Michael Dell, CEO of DELL”, disebutkan bahwa biaya untuk membuat Artificial Intelligence hampir nol.  Era Industri 4.0 memungkinkan dengan penciptaan teknologi tinggi yang hampir merata maka biaya membuat kecerdasan buatan semakin menurun drastis.  Teknologi bertumbuh 10 kali lipat di dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini.  Hal ini disebutkan oleh Amit Midha (President DELL EMC) dalam artikel “Accelerating Digital Business in the Era of 4th Industrial Revolution“.  Dan hingga 2020, 5,1 juta pekerjaan akan hilang dilanda laju era disrupsi sesuai dengan ringkasan dari WEC (2016) dalam artikel “The Future of Jobs : Employment, Skills, and Workforce Strategy for the 4th Industrial Revolution“.  Dalam lingkungan kerja yang semakin cepat, tugas dan pekerjaan rutin telah diambil oleh mesin otomatis. Sumber Daya Manusia dengan keterampilan yang ahli dan kreatif, sekarang diperlukan lebih dari sebelumnya untuk memastikan keberlanjutan daya saing tenaga kerja secara nasional.
Di pemeringkatan Global Competitiveness Index, Indonesia menempati urutan 36 pada tahun 2017, berada di bawah Malaysia yang bertengger di urutan 23.  Sementara di Human Capital Index 2017, Indonesia berada di urutan paling bawah, yakni di urutan 65 dibandingkan dengan Malaysia di 33, Philippine di 50 dan VIetnam di 64. Dan kalau dilihat di pemeringkatan Global Talent Competitiveness Index 2017, Indonesia menempati urutan 77, sedikit lebih baik dari Vietnam di 87, namun masih berada di bawah Malaysia di 27 dan Philippine di 54 (INSEAD, 2016-2018)
Melihat fakta-fakta tersebut di atas, ditambah lagi dengan situasi dan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia yang angkatan kerjanya masih didominasi oleh lulusan SMP ke bawah, serta makin banyaknya pengangguran lulusan SMK di Indonesia serta potensi bonus demografi di tahun 2030 ditambah dengan ancaman terjebak dalam populasi penduduk berpendapatan menengah, maka Indonesia harus berupaya keras untuk melakukan program peningkatan kompetensi SDMnya bila tidak ingin menjadi bangsa yang lemah dan tersisih di masa mendatang.
Praktisi dan Pakar senior di bidang Manajemen SDM berinisiatif untuk mengerahkan daya dan upaya serta berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan yang terkait dengan kompetensi SDM dalam suatu inisiatif yang disebut dengan Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK).  Gerakan ini merupakan platform yang bersifat terbuka bagi semua elemen bangsa untuk berkontribusi dalam segala asa dan upaya dalam memperbaiki kualitas SDM Indonesia saat ini, melalui pemetaan kondisi situasional saat ini, menyiapkan program jangka pendek, menengah dan panjang dengan parameter yang terukur dan melaksanakannya dengan sistem monitoring yang berkelanjutan untuk memastikan hasil yang jelas dan selalu menumbuhkan semangat tiada henti untuk selalu memberikan yang terbaik demi peningkatan kompetensi SDM Indonesia.
GNIK memiliki logo seperti di bawah ini:
Logo mengandung makna:
  • SDM Indonesia yang kompeten, produktif, dan berdaya saing;
  • Kolaborasi merah putih menggabungkan semua pemangku kepentingan dalam tautan Indonesia Raya;
  • SDM Indonesia yang mampu bersaing di kompetisi global;
  • SDM Indonesia yang penuh energi dalam meraih ambisi yang makin meningkat setiap saat;
  • Sinergi Pusat dan Daerah yang kokoh dalam mengakselerasikan gerakan masif yang berdampak eksponensial secara konsisten.
Adapun pemilihan warna-warna dalam logo menggambarkan semangat dan filosofi sebagai berikut:
  • Merah melambangkan keberanian, kekuatan, energi, semangat, dan adrenalin dalam memperjuangkan peningkatan kualitas, kompetensi dan daya saing SDM Indonesia;
  • Kuning melambangkan keceriaan dan semangat optimisme dalam melaksanakan semua agenda dalam GNIK;
  • Biru melambangkan kestabilan, kecerdasan dan rasa percaya diri dalam segala upaya meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di tengah-tengah persaingan regional dan global;
  • Hitam melambangkan ketenangan dan keteguhan hati demi kejayaan Indonesia negeri tercinta.
Pada prinsipnya GNIK berisikan 3 (tiga) pilar utama yaitu:
  1. Melatih dan mensertifikasi 2.000 praktisi Manajemen SDM di seluruh Indonesia selama 2019;
  2. Meluluskan 400.000 peserta pemagangan (apprenticeship) bersertifikasi kompetensi yang dilatih di perusahaan-perusahaan swasta dan BUMN selama 2019;
  3. Merumuskan Industry Transformation Strategy (ITS), Job Future Map (JFM) dan Manpower Planning (MP) bagi beberapa sektor industri prioritas.
Sedangkan beberapa tambahan sasaran lainnya antara lain:
  1. Menyelenggarakan Konggres Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) pada November 2018;
  2. Menyelaraskan kurikulum di Pendidikan Tinggi sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan atau Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI);
  3. Menjalin kolaborasi dengan lembaga, badan, pihak-pihak terkait yang berskala nasional dengan agenda peningkatan kompetensi SDM Indonesia.
Secara organisatoris, GNIK akan dikendalikan oleh Badan Penasehat yang diketuai oleh Dr. Achmad S. Ruky, MBA. dan terdiri dari beberapa tokoh senior di bidang Manajemen SDM dan bidang lainnya, Badan Pengarah yang diketuai oleh Dr. Ir. Yunus Triyonggo, MM, CAHRI. dan beranggotakan pakar dan praktisi senior bidang Manajemen SDM, serta Panitia Pelaksana yang diketuai oleh Mahmud Samuri, SPd., M.SPd. dengan dibantu oleh segenap anggota kepanitiaan.
Secara lebih lengkap, gambaran tentang Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK)dapat dibaca melalui Communication Deck sbb.:
Kepada semua pihak yang ingin Indonesia maju dengan SDM yang berdaya saing regional dan global, saya mengajak untuk bergandengan tangan, bersama-sama merajut Kolaborasi untuk Kemajuan Negeri.  Anda semua dapat memulainya dari Anda sendiri dengan aksi yang sesederhana mungkin yang kiranya dapat mendorong perbaikan SDM Indonesia menjadi lebih baik, termasuk memperbaiki kompetensi diri Anda sendiri.
Salam kompeten, salam GNIK!
yunus triyonggo, praktisi Manajemen SDM
Sumber : https://yunustriyonggo.wordpress.com/2018/06/24/gerakan-nasional-indonesia-kompeten-gnik/